Mewmiong’s Weblog

Februari 9, 2010

hanya ditemani malam

Diarsipkan di bawah: cerpen — mewmiong @ 12:50 pm

Hanya ditemani malam. Aku tenggelam dan terlena pada rasa sakit yang semakin menjemukan. Seolah jika hati ini diambil dari tubuhku, bentuknya sudah tak karuan. Lebur bersama asa dan rasa pahit yang menyiksa. Seolah menelan pil pahit yang rasa pahitnya tersisa di pangkal lidah. Atau jika hati ini terbuat dari kaca, pasti hancur lebur menjadi sisa serpihan yang menyakitkan.

Aku tak bilang rasa sakitnya seperti sudah mati. Karena aku masih belum mati. Hanya saja, ini perih. Perih sekali. Melihat kau yang tak lagi bisa kuraih. Melihat kau yang semakin asing. Tak lagi tahu segala tentangmu. Jarak itu semakin jelas. Batas itu semakin nyata. Aku semakin menjadi bukan siapa-siapa.

Hai, kau yang sampai hari ini masih kurindu…tak bisakah kau dengar letupan hatiku yang tak tertahankan? Tak bisakah kau rasa leburnya hati yang tak terobati? Atau derita ini hanya milikku sendiri?

Februari 6, 2010

FYI : seputar “Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara”

Diarsipkan di bawah: artikel — mewmiong @ 8:10 am

Rupbasan Jogja belum optimal dimanfaatkan

Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) kelas I Jogja masih belum dimanfaatkan optimal hingga saat ini.

Kepala Rupbasan Bambang Tri ketika ditemui di kantor Rupbasan klas I Jogja Jalan Taman Siswa No 8, Rabu (20/1) mengatakan,  di DIY sudah terdapat 4 Rupbasan antara lain di kota Jogja, Wates, Bantul dan Wonosari. Namun persoalan yang mendera masing-masing Rupbasan masih sama, yaitu pemanfaatan belum optimal. “Saya sangat prihatin dengan keadaan ini,” jelasnya.

Bambang Tri menambahkan ketidakoptimalan pemanfaatan Rupbasan klas I ini sudah terjadi sejak kantor tersebutdibangun. “Sejak 6 tahun lalu, masih seperti ini. Barang yang ada di gudang hanya barang rampasan yang tidak berproses. Padahal sudah diatur di KUHP [UU No 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana],” tambahnya.

Dia menyayangkan, dari dasar hukum Rupbasan yang sudah ada sejak lama itu, sejumlah instansi terkait seperti kejaksaan, pengadilan dan kepolisian belum optimal memanfaatkan keberadaan kantornya.

Bambang mengungkapkan, koordinasi dengan instansi sudah dilakukan berulangkali. Upaya untuk sosialisasi pemanfaatan Rupbasan juga sudah berulang kali digelar. “ Tak tanggung-tanggung, kami proaktif dengan datang ke Poltabes mengambil barang rampasan untuk disimpan di gudang kami. Padahal tidak ada aturan itu. Yang seharusnya, kami menunggu instansi terkait datang menyimpan barang-barang tersebut,” imbuh Kasubsi Administarsi, Slamet Raharjo.

Padahal, pihak Rupbasan mengaku selalu siap menerima barang-barang tersebut. “Kami punya 7 gudang besar dan lebih dari 30 staf yang siap sedia. Terakhir barang masuk bulan November 2009 lalu, hinga kini belum ada lagi. Kebanyakan nganggur seperti ini juga tidak enak, lha wong kantor ini dibangun oleh negara dan kami punya tanggung jawab untuk mengelola sebaik mungkin,” aku Bambang. Bambang berharap pada 2010 ini, Rupbasan bisa dimanfaatkan oleh instansi terkait dengan lebih baik.

Rupbasan masih dijadikan tepat cadangan

Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) klas I Jogja masih belum dimanfaatkan optimal oleh institusi peradilan terkait. Keberadaannya masih sebatas tempat cadangan jika gudang penyimpanan di kepolisian, kejaksaan maupun pengadilan dirasa sudah tidak cukup.

Ditemui di kantornya, Jumat (5/2) Wakasat Reskrim Poltabes Jogja AKP Sudarsono menyebutkan, hingga saat ini pihaknya masih memanfaatkan gedung penyimpanan yang dimiliki Poltabes Jogja untuk menyimpan barang rampasan, barang bukti , maupun barang sitaan sejak proses penyelidikan hingga mendapat putusan peradilan.

“Kami rasa gudang kami masih memadai. Kami memanfaatkan Rupbasan untuk menyimpan barang rampasan maupun sitaan jika gudang kami sudah penuh,” tambahnya.

Ketika disinggung soal pemanfaatan Rupbasan sesuai dengan yang tercantum dalam KUHP UU No 8 tahun 1981, dirinya mengakui ketidakoptimalan pemanfaatan Rupbasan itu merupakan hal yang lumrah.
“Di kota lain juga saya rasa sama. Pemanfaatan Rupbasan juga belum optimal,” kilahnya.

Hal berbeda justru diungkapkan oleh Kepala Rupbasan klas I Jogja, Bambang Tri beberapa waktu lalu.

“Sejak 6 tahun lalu, masih seperti ini. Barang yang ada di gudang hanya barang rampasan yang tidak berproses. Padahal sudah diatur di KUHP-UU No 8 tahun 1981. Dasar hukum Rupbasan sudah ada, tapi saya juga heran mengapa instansi terkait seperti kejaksaan, pengadilan dan kepolisian belum optimal memanfaatkan keberadaan kami.”

Koordinasi dengan instansi sudah dilakukan berulangkali. Upaya untuk sosialasi pemanfaatan Rupbasan pun juga sudah dilaksanakan.

“Tak tanggung-tanggung, kami proaktif dengan datang ke Poltabes untuk mengambil barang rampasan untuk disimpan di gudang kami. Padahal tidak ada aturan itu. Yang seharusnya, kami menunggu instansi terkait untuk menyimpan barang-barang tersebut,” imbuh Kasubsi Administarsi Rupbasan, Slamet Raharjo ketika ditemui beberapa waktu lalu.

link

http://harianjogja.com/web2/beritas/detailberita/11374/rupbasan-jogja-belum-optimal-dimanfaatkan

http://harianjogja.com/web2/beritas/detailberita/11846

Januari 6, 2010

hanya antara aku dan diriku saja

Diarsipkan di bawah: cerpen — mewmiong @ 6:28 am

pertarungan hidup dan mati masih berlangsung. masih antara aku dan diriku. mencercap semua kelemahan masing-masing. tak membiarkan lolos satu sama lain. pertarungan ini penentuan, siapa yang akan menang dan berhak mendiami tubuh mati ini, aku atau diriku?

setiap hari bagaikan di medan perang. senjata yang kami gunakan tak seperti para tentara, senjata kami hanya lidah untuk mencaci. masing-masing dari kami selalu mengincar hati agar cepat mati. tapi ternyata tak mudah. aku berusaha membunuh dan mencabik hati “diriku”, aku juga ikut merasakan ngilu. intinya sama saja, jika aku mati diriku juga mati.

masalahnya sekarang, antara aku dan diriku tak mau kalah. tak mau berbagi. baik aku maupun diriku ingin menjadi yang lebih dulu. menjadi pembunuh atau yang terbunuh.

setiap hari rasa perih menyayat seluruh tubuhku. otakku diperas tak ada habisnya dengan pikiran-pikiran ” taktik apalagi?” mencoba bergerilya, tapi selalu terbangun bersama. mencoba menikam dari belakang, ternyata berbarengan. jengah. tak akan ada habisnya jika aku tak terpisah dari diriku.

kini bukan lagi berpikir bagaimana membunuhnya. tapi cara agar aku dan diriku bisa terpisah secepatnya. tapi sama saja. berpikir untuk memisahkan diri sama saja berpikir untuk saling membunuh lagi.

aku dan diriku memang sudah tak akur sejak terakhir aku tak sepaham dengan jalan pikirannya. saat aku ingin tidur, dia ingin bangun. saat aku berjalan ke kanan, dia ke kiri. saat aku bilang ya, dia bilang tidak. entah sejak kapan kami bisa berseberangan begini. padahal sudah lebih dari 20 tahun, aku dan diriku tak terpisahkan. selalu bersama menghadapi pahit dan manis dunia.

tak pernah kudapat jawaban pasti dari aku maupun diriku. pernah kutanya padanya,

” Mengapa kita berseberangan dan saling menjatuhkan?” tanyaku.

” Mengapa tanya padaku, tanya pada dirimu saja,” jawabnya.

” Bertanya padaku memang sama saja bertanya pada dirimu, tapi aku tak pernah temukan jawabannya,” balasku.

” Itu kau tahu,” hanya itu yang dia katakan dan sampai sekarang aku masih tak paham.

akhirnya, sampai saat ini pertarungan kami masih berlangsung. masih tak terprediksi, siapa yang akan menjadi pemenang. yang ada, setiap hari kami lalui dengan bertarung habis-habisan. mencoba saling mendominasi, mencoba saling menjatuhkan, dan mencoba saling membunuh. hanya antara aku dan diriku saja, tak ada orang lain..>>mewmiong060110<<

Januari 4, 2010

wis entek atiku kanggo awakmu

Diarsipkan di bawah: cerpen — mewmiong @ 10:19 am

wis entek atiku kanggo awakmu

habis sudah tak tersisa

apalagi yang kupunya

hati ini sudah tak mau lagi memberi celah

sudah tak ada lagi ruang yang kusisakan untukmu

wis entek atiku kanggo awakmu

setiap kali kusisakan ruang

hanya diisi dengan kekosonganmu

hanya diisi dengan sakit yang selalu menjadi lebih sakit

wis entek atiku kanggo awakmu

kurelakan untuk tak membuka hati

dan biarkan ruang itu kosong untukmu

tapi selalu kau biarkan ruang itu kosong

dan berlumut

aku (mau) mati rasa

biar tak lagi kuharapkan kau datang

biar tak lagi kuharapkan kau kembali

yang pergi biar pergi dan tak perlu kembali

Desember 16, 2009

hanya sesekali…

Diarsipkan di bawah: cerpen — mewmiong @ 5:16 am

Suatu siang di sebuah kafe pinggir jalan.

Aku merenung di sebuah sudut kursi sendiri. Sesekali melihat ke luar jendela, melihat gerak gerik manusia siang ini. Melaju dengan motornya cepat seolah diburu waktu, entah ingin bertemu siapa. Atau segerombolan remaja putih abu-abu yang berjalan bersama sambil bercanda, beda sekali dengan berita yang kubaca beberapa hari lalu saat seorang siswi babak belur dihajar 5 siswi lain.

Siapapun yang kulihat dibalik jendela itu, tak ada yang ku kenal. Bahkan, kadang aku berharap saat aku menoleh aku bisa melihatmu, yang kurindukan.

Secangkir coklat panas belum juga datang. Siang begini panas, pilihanku tetap coklat panas. Aku sedang marah dengan kafein, yang biasanya aku selalu setia memilihnya menjadi pendamping saat aku sendiri. Karena dia selalu membuatku terjaga dan justru membuatku semakin memikirkanmu, yang kurindukan.

Sudah lama, sejak aku memutuskan untuk melangkah sendiri karena kau memilih untuk pergi. Namun, sesekali aku sesali saat itu. Tapi, itulah yang terjadi…

Suatu hari kutemukan kau diujung jalan itu. Aku pikir, mungkin ini kesempatan untuk memulai berbincang denganmu setelah sekian lama kita berdiam. Tapi, bukannya mendekat justru kau semakin melangkah jauh. Selangkah demi selangkah dan hilang di persimpangan. Heiiii, aku memanggilmu. Tidakkah kau dengar…?

Semakin jauh dan tak teraih. Kau mulai melangkah maju, meninggalkan dunia saat bersamaku. Aku berlari hingga persimpangan itu, dan tetap tak kutemukan dirimu. Aku sudah benar-benar kehilangan sekarang. Sesekali aku hanya berharap kau kembali, tapi tidak sering. Karena aku tak mau membua kisah hidupku terhenti karenamu. Hanya sesekali, aku memikirkanmu. Hanya sesekali aku berharap kau ada disini. Hanya sesekali..

Oktober 7, 2009

Malam ini, hanya ada aku dan secangkir kopi yang mulai dingin

Diarsipkan di bawah: cerpen — mewmiong @ 10:03 am

cerpen:

Malam ini, hanya ada aku dan secangkir kopi yang mulai dingin

Secangkir kopi pahit ini mulai dingin. Sudah cukup lama aku terdiam menatap ke arah layar monitor. Memandangi huruf demi huruf yang tersusun yang semakin lama justru semakin membuat otakku mengering. Fiuh, kapan tesis ini selesai ? sudah hampir sebulan tapi belum ada perkembangan yang berarti. Belum lagi deadline artikel mingguan yang semakin menghimpit hari.

Menjadi seorang kuli tinta di koran mingguan sekaligus menjadi mahasiswa S2 komunikasi sudah sangat menyita waktu, tenaga dan pikiranku. Setiap malam hanya ditemani secangkir kopi. Terkadang lebih. Tergantung seberapa banyak inspirasi muncul saat itu. Semakin banyak inspirasi semakin banyak kopi yang kuminum.

Sudah pukul 3 pagi. Dan aku belum beranjak dari meja kerjaku, menghadap layar dan ditemani secangkir kopi pahit yang semakin dingin. Pahitnya cukup membuatku sadar bahwa hidup ini perlu dilalui dengan rasa pahit. Kopi, yang selama ini selalu mengingatkanku untuk tidak pernah menyerah dan menghargai suatu proses.

Hidupku tak semudah yang teman kantor atau teman kuliahku lihat. Mereka pikir aku perempuan yang sempurna. Sejak belum mendapat gelar S1 aku sudah menjadi wartawan. Kini bisa melanjutkan studi pun, karena kantor yang memberiku kesempatan. “ Kamu beruntung banget. Karier mu lancar, studi mu juga oke. Perfect!” Paling tidak kalimat ini selalu aku dengar tiap kali aku bertemu orang baru di kantor atau di kampus.

Dibalik itu semua, sesungguhnya aku cuma perempuan picik. Aku lemah dalam banyak hal. Kesepian, hal yang paling kubenci dan selalu saja membuatku berubah menjadi pecundang. Aku juga lemah dalam urusan cinta.

Hingga usiaku yang sudah tak muda lagi ini, aku masih selalu jadi pihak yang dicampakkan. “ Gengsimu terlalu besar, egomu juga terlalu tinggi. Perempuan itu tetap perlu lelaki disisinya. Pantas saja kau ditinggalkan. Kau seolah tak butuh mereka. Ada atau tanpa lelaki, tak ada yang berubah padamu,” seorang teman pernah menasehatiku demikian. Agak menusuk juga kata-kata yang dia ucapkan. Tapi cukup membuatku yang biasanya masa bodoh jadi sedikit banyak memikirkannya juga.

Aku tak sekuat yang mereka kira. Saat putus cinta, sama seperti perempuan lain aku juga menangis. Hanya saja aku tak pernah kutunjukkan air mataku kepada siapapun. Lagi-lagi, secangkir kopi selalu menjadi saksi bisu kelemahanku hingga pagi.

Sluuurp….

Seteguk lagi kopi dingin ini kuminum. Pahit. Seperti perasaanku kini. Entah apa yang membuat hati ini sebegitu pahitnya. Seperti terlalu banyak empedu di dalamnya.

Aku pengecut. Kusadari itu. Aku cerdas tapi sebenarnya aku picik. Seorang lelaki muda, getol memberikan perhatian dan mencoba untuk masuk dan menjadi bagian dari hidupku. Tak bisa kutampik pesonanya yang seringkali membuatku melamun dan terlena. Dia cukup tampan. Hanya saja yang jadi masalah, aku lebih pantas jadi tantenya ketimbang pasangannya.

Dia lebih muda 5 tahun dariku. Dan bagiku ini jadi alasan tak pernah aku respon perhatian yang dia berikan selama ini. Pernah suatu ketika aku menerima ajakan makan malam darinya. Saat itu dia sepertinya ada di puncak emosi hingga keluar pertanyaan yang aku khawatirkan.

“Embun, apa karena aku jauh lebih muda sehingga tak sedikitpun kau menerima cintaku ?”

Aku hanya mampu terdiam. Aku mencoba mengelak. Aku juga enggan dicap sebagai perempuan kolot yang masih mempermasalahkan perbedaan usia. “ Bukan, hanya belum saatnya saja,” jawabku.

Setelah itu, dia mulai menjaga jarak. Tak lagi segetol dulu. Jujur, kurindukan juga saat-saat dia mengejarku, memberi perhatian padaku. Tapi lagi-lagi aku tak mau jujur. Aku selalu mencoba mengelak kerinduanku padanya. Aku terlalu takut akan pandangan dan pikiran orang jika benar aku menjalin hubungan dengan lelaki yang lebih muda. Yah, aku memang bodoh. Masih saja memikirkan pandangan orang dengan cara pikir yang terlalu konvensional. Bahkan seorang sahabat pun pernah bilang padaku “ jangan lihat dari berapa usianya, usia itu bukan jaminan kedewasaan seseorang. Siapa tahu dia yang lebih muda justru bisa lebih dewasa dari lelaki lain yang pernah mencampakkanmu karena hatinya yang masih bocah sehingga gampang tergoda perempuan lain,”

Pukul 4 pagi, aku masih belum dihinggapi rasa kantuk sedikit pun. Aku lihat ponselku dan kubaca-baca lagi pesan yang masuk. Semua hanya tentang pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan. Bosan.

Tiba-tiba aku merindukan saat-saat ada yang memberiku semangat. Merindukan saat-saat ada yang mengingatkanku untuk menghentikan kebiasaanku bercinta dengan kopi setiap tengah malam hingga pagi bahkan saat-saat ada yang mengucapkan selamat tidur untukku.

Sudah cukup lama tak pernah kualami lagi masa-masa itu. Hari-hariku hanya ada aku dan secangkir kopi. Setiap malam yang menemaniku hanya secangkir kopi. Setiap malam yang mengucapkan selamat tidur hanya secangkir kopi. dan saat aku terbangun pun, disisiku hanya cangkir yang sudah tak berkopi.

Ataukah aku nikahi saja secangkir kopi ini ? karena didepannya aku bisa jujur dan jadi diri sendiri. Aaah, pikiranku sudah mulai menggila. Sudah hampir subuh dan pekerjaanku masih stuck. Aku harus tuntaskan ini sebelum kopi ini habis dan tak menemaniku lagi hari ini. Semoga belum terlambat. >mewmiong071009<

Oktober 1, 2009

untitled

Diarsipkan di bawah: my daily diary — mewmiong @ 1:32 pm

waktu…

sepertinya makin menghimpidku..

gerakku makin terbatas…

aku mulai terbata…

pikirku mulai aus…

aku sudah terkontaminasi oleh riak dunia yang membuatku seringkali lupa

lupa akan siapa aku

lupa akan darimana aku berasal

padahal aku cuma seonggok tanah

dengan daging dan darah

bgini saja aku sudah pongah

waktu…

lagilagi berlalu kian cepad…

sekuad ku berlari hingga napasku terengah dan hampir mati…

tanpa ampun, waktu terus mendesakku agar aku menyerah…

memang nanti ada saadnya aku serahkan akhirku pada waktu…

tapi tidak sekarang

selama aku masih sanggup berdiri dan berlari…

aku tidak akan menyerah…

dengan sisa masa yang kupunya…

aku masih ingin mengubah dunia…

Juli 27, 2009

hohoho…tak trasa dah hampir 2 bulan

Diarsipkan di bawah: my daily diary — mewmiong @ 7:14 am

gag krasa dah hampir 2 bulan magang…hohoho,

berjuta pengalaman baru…teman baru…ilmu baru…

bakaL ada keLanjutan gag ya…? hahaha…smoga…

Juli 14, 2009

chapter : Job training

Diarsipkan di bawah: my daily diary — mewmiong @ 1:37 pm

hohoho…suda lama tak menjamah blog ini…

setelah disibukkan dengan berbagai acara, haLah…

akhirna nyempetin buat meng UpDate lagi…hahaha

kaLi ini, kehidupan saia di masa2 job training…

yuhuuu…

suda
sejak 15 juni lalu, saia resmi job training alias magang…

di salah satu koran lokal di jogja…

2 minggu pertama di taroh di mingguan…

menyenangkan….

setelah itu beralih ke onled…huhu, saia muLai tersiksa…haLah..

sebenarnya bukan tersiksa, tapi saia hanya cukup terkuras energi dan pikiran saja…

tiap hari kudu dapet 3 brita…

ampuuun, susah juga ternyata…

palagi kLo pas gag ada event..harus memutar otak dan mencoba peka…

tapi, sjauh ini saia masih berusaha bertahan…smangadh^^

Mei 5, 2009

i need you, God…

Diarsipkan di bawah: my daily diary — mewmiong @ 12:37 pm

saad gag ada lagii tempat untuk kutuju…

saad gag ada lagii tempat yang membuatku nyaman…

saad benar2 ada dalam keputusasaan…

saad benar2 lelah dengan semua masalah…

saad tak lagii menemukan tempat untuk bersandar…

aku hanya perLu Kamu, Tuhan…

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.