cerpen:
Malam ini, hanya ada aku dan secangkir kopi yang mulai dingin
Secangkir kopi pahit ini mulai dingin. Sudah cukup lama aku terdiam menatap ke arah layar monitor. Memandangi huruf demi huruf yang tersusun yang semakin lama justru semakin membuat otakku mengering. Fiuh, kapan tesis ini selesai ? sudah hampir sebulan tapi belum ada perkembangan yang berarti. Belum lagi deadline artikel mingguan yang semakin menghimpit hari.
Menjadi seorang kuli tinta di koran mingguan sekaligus menjadi mahasiswa S2 komunikasi sudah sangat menyita waktu, tenaga dan pikiranku. Setiap malam hanya ditemani secangkir kopi. Terkadang lebih. Tergantung seberapa banyak inspirasi muncul saat itu. Semakin banyak inspirasi semakin banyak kopi yang kuminum.
Sudah pukul 3 pagi. Dan aku belum beranjak dari meja kerjaku, menghadap layar dan ditemani secangkir kopi pahit yang semakin dingin. Pahitnya cukup membuatku sadar bahwa hidup ini perlu dilalui dengan rasa pahit. Kopi, yang selama ini selalu mengingatkanku untuk tidak pernah menyerah dan menghargai suatu proses.
Hidupku tak semudah yang teman kantor atau teman kuliahku lihat. Mereka pikir aku perempuan yang sempurna. Sejak belum mendapat gelar S1 aku sudah menjadi wartawan. Kini bisa melanjutkan studi pun, karena kantor yang memberiku kesempatan. “ Kamu beruntung banget. Karier mu lancar, studi mu juga oke. Perfect!” Paling tidak kalimat ini selalu aku dengar tiap kali aku bertemu orang baru di kantor atau di kampus.
Dibalik itu semua, sesungguhnya aku cuma perempuan picik. Aku lemah dalam banyak hal. Kesepian, hal yang paling kubenci dan selalu saja membuatku berubah menjadi pecundang. Aku juga lemah dalam urusan cinta.
Hingga usiaku yang sudah tak muda lagi ini, aku masih selalu jadi pihak yang dicampakkan. “ Gengsimu terlalu besar, egomu juga terlalu tinggi. Perempuan itu tetap perlu lelaki disisinya. Pantas saja kau ditinggalkan. Kau seolah tak butuh mereka. Ada atau tanpa lelaki, tak ada yang berubah padamu,” seorang teman pernah menasehatiku demikian. Agak menusuk juga kata-kata yang dia ucapkan. Tapi cukup membuatku yang biasanya masa bodoh jadi sedikit banyak memikirkannya juga.
Aku tak sekuat yang mereka kira. Saat putus cinta, sama seperti perempuan lain aku juga menangis. Hanya saja aku tak pernah kutunjukkan air mataku kepada siapapun. Lagi-lagi, secangkir kopi selalu menjadi saksi bisu kelemahanku hingga pagi.
Sluuurp….
Seteguk lagi kopi dingin ini kuminum. Pahit. Seperti perasaanku kini. Entah apa yang membuat hati ini sebegitu pahitnya. Seperti terlalu banyak empedu di dalamnya.
Aku pengecut. Kusadari itu. Aku cerdas tapi sebenarnya aku picik. Seorang lelaki muda, getol memberikan perhatian dan mencoba untuk masuk dan menjadi bagian dari hidupku. Tak bisa kutampik pesonanya yang seringkali membuatku melamun dan terlena. Dia cukup tampan. Hanya saja yang jadi masalah, aku lebih pantas jadi tantenya ketimbang pasangannya.
Dia lebih muda 5 tahun dariku. Dan bagiku ini jadi alasan tak pernah aku respon perhatian yang dia berikan selama ini. Pernah suatu ketika aku menerima ajakan makan malam darinya. Saat itu dia sepertinya ada di puncak emosi hingga keluar pertanyaan yang aku khawatirkan.
“Embun, apa karena aku jauh lebih muda sehingga tak sedikitpun kau menerima cintaku ?”
Aku hanya mampu terdiam. Aku mencoba mengelak. Aku juga enggan dicap sebagai perempuan kolot yang masih mempermasalahkan perbedaan usia. “ Bukan, hanya belum saatnya saja,” jawabku.
Setelah itu, dia mulai menjaga jarak. Tak lagi segetol dulu. Jujur, kurindukan juga saat-saat dia mengejarku, memberi perhatian padaku. Tapi lagi-lagi aku tak mau jujur. Aku selalu mencoba mengelak kerinduanku padanya. Aku terlalu takut akan pandangan dan pikiran orang jika benar aku menjalin hubungan dengan lelaki yang lebih muda. Yah, aku memang bodoh. Masih saja memikirkan pandangan orang dengan cara pikir yang terlalu konvensional. Bahkan seorang sahabat pun pernah bilang padaku “ jangan lihat dari berapa usianya, usia itu bukan jaminan kedewasaan seseorang. Siapa tahu dia yang lebih muda justru bisa lebih dewasa dari lelaki lain yang pernah mencampakkanmu karena hatinya yang masih bocah sehingga gampang tergoda perempuan lain,”
Pukul 4 pagi, aku masih belum dihinggapi rasa kantuk sedikit pun. Aku lihat ponselku dan kubaca-baca lagi pesan yang masuk. Semua hanya tentang pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan. Bosan.
Tiba-tiba aku merindukan saat-saat ada yang memberiku semangat. Merindukan saat-saat ada yang mengingatkanku untuk menghentikan kebiasaanku bercinta dengan kopi setiap tengah malam hingga pagi bahkan saat-saat ada yang mengucapkan selamat tidur untukku.
Sudah cukup lama tak pernah kualami lagi masa-masa itu. Hari-hariku hanya ada aku dan secangkir kopi. Setiap malam yang menemaniku hanya secangkir kopi. Setiap malam yang mengucapkan selamat tidur hanya secangkir kopi. dan saat aku terbangun pun, disisiku hanya cangkir yang sudah tak berkopi.
Ataukah aku nikahi saja secangkir kopi ini ? karena didepannya aku bisa jujur dan jadi diri sendiri. Aaah, pikiranku sudah mulai menggila. Sudah hampir subuh dan pekerjaanku masih stuck. Aku harus tuntaskan ini sebelum kopi ini habis dan tak menemaniku lagi hari ini. Semoga belum terlambat. >mewmiong071009<